Sebagai bagian dari rangkaian pembelajaran pada mata kuliah Metodologi Penelitian 2, mahasiswa Program Magister Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan kegiatan kuliah lapangan di beberapa kawasan di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kegiatan ini menjadi tahapan penting dalam proses pembelajaran berbasis riset lapangan untuk memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap pendekatan fenomenologi dalam arsitektur dan lingkungan binaan.
Kuliah lapangan ini bertujuan untuk menghimpun data dan informasi mengenai fenomena ruang, kondisi fisik bangunan, serta praktik budaya masyarakat yang berkembang di Desa Pekuncen. Pengamatan dilakukan dalam konteks hubungan antara ruang, aktivitas sosial, dan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat. Data yang diperoleh akan menjadi dasar penyusunan tugas penelitian mahasiswa pada mata kuliah Metodologi Penelitian 2.
Kegiatan ini dilaksanakan pada 1-3 Mei 2026 yang diikuti oleh 31 mahasiswa Program Magister Program Studi Arsitektur UGM yang terbagi ke dalam beberapa kelompok penelitian berdasarkan wilayah dan objek amatan di Desa Pekuncen serta didampingi oleh Prof. Ir. Tarcicius Yoyok Wahyu Subroto, M.Eng., Ph.D. IPU., Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D., IPU., dan Mario Lodeweik Lionar S.T., M.Sc. Ph.D. sebagai dosen pengampu. Setiap kelompok melakukan observasi lapangan dengan fokus kajian yang beragam, mulai dari karakter spasial permukiman, tipologi bangunan, pola interaksi masyarakat, hingga ekspresi budaya lokal yang membentuk identitas ruang desa.
Terletak di wilayah agraris dengan luas sekitar 506,64 hektare, Desa Pekuncen memiliki karakter lingkungan yang kuat, ditandai dengan dominasi lahan pertanian dan pekarangan yang membentuk pola kehidupan masyarakat yang erat dengan alam sekitarnya. Lanskap desa yang khas tersebut menjadi konteks penting dalam memahami hubungan antara manusia, ruang, dan budaya dalam perspektif fenomenologi. Selain karakter fisiknya, Desa Pekuncen juga dikenal sebagai wilayah yang masih menjaga tradisi budaya leluhur, salah satunya melalui ritual unggahan trah Banokeling, sebuah tradisi turun-temurun yang dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat. Tradisi ini mencerminkan bagaimana nilai-nilai budaya tidak hanya hidup dalam praktik sosial masyarakat, tetapi juga membentuk makna ruang dan pola kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan kuliah lapangan ini, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan observasi kritis dan pemahaman kontekstual terhadap fenomena arsitektur dan kebudayaan masyarakat. Di sisi lain, hasil penelitian yang dihasilkan juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi Desa Pekuncen, baik sebagai bahan pengayaan profil desa, pendukung promosi potensi wisata budaya, maupun sebagai masukan dalam upaya pelestarian budaya dan pengembangan potensi lokal berbasis kearifan masyarakat.
Kegiatan kuliah lapangan Metodologi Penelitian 2 di Desa Pekuncen mendukung pencapaian SDG 4 (Quality Education) melalui pembelajaran berbasis riset lapangan dengan memastikan peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, termasuk penghargaan terhadap budaya lokal, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui penguatan pemahaman terhadap pelestarian ruang dan budaya lokal. Kegiatan ini mencerminkan komitmen Program Magister Arsitektur UGM dalam mendorong proses pembelajaran yang tidak hanya berbasis akademik, tetapi juga kontekstual, kolaboratif, dan memiliki relevansi nyata terhadap masyarakat dan lingkungan.
